/Bermusik dan Wawasan Kebahasaan yang Ada Dalam Sebuah Lagu

Bermusik dan Wawasan Kebahasaan yang Ada Dalam Sebuah Lagu

Pada mulanya, jumlah kosakata yang kita ucapkan masih sangat terbatas ketika usia balita. Seiring berjalannya waktu, jumlah itu terus bertambah seiring usia. Terdapat banyak cara dalam menemukan kata-kata baru tersebut.

Salah satu caranya adalah melalui buku, terutama buku-buku ilmiah. Hal ini dikarenakan ada banyak sekali kata-kata baku disana, terlebih terdapat pula kata-kata yang jarang digunakan atau disebut kosakata pasif, seperti ultranasionalisme, suprastruktur, utilitas, dan sebagainya. Hal tersebut berdampak besar pada wawasan kebahasaan kita.

Selain membaca, cara lain dalam menemukan kosakata baru adalah melalui sebuah lagu. Perlu diketahui, dalam teknik pembuatan suatu lagu, lirik yang akan digunakan haruslah sesuai dengan tujuan dari lagu tersebut. Diksi atau pilihan katanya pun juga harus mudah dimengerti. Walaupun demikian, tetap diperlukan suatu kreasi agar lagu tersebut tidak terlalu monoton serta dapat bertahan lama. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan kosakata pasif.

Contoh-contohnya seperti kata “dogma” yang artinya “suatu kepercayaan yang harus dipegang” yang dapat ditemukan dalam lagu “Cukup Siti Nurbaya” dari grup band Dewa, kata “sukma” yang berarti “bunga” dalam lagu ‘Tak Bisa ke Lain Hati” dari KLA Project, kata “nirwana” yang artinya “surga” dalam lagu “Kupersembahkan Nirwana” dari grup band Elemen, kata “lembayung” artinya “merah jingga” dalam lagu ” Cintaku” dari mendiang Chrisye, kata “selir” yang artinya “istri yang kedudukannya lebih rendah daripada istri pertama ” dalam lagu “Selir Hati” dari grup band T.R.I.A.D, serta kata “resesi” yang artinya “kelesuan dalam bidang industri, perdagangan” ada dalam lagu “Resesi Dunia” dari mendiang Mara Karma.

Mungkin, beberapa di antara lagu-lagu tersebut sudah lewat masanya. Namun, adapula lagu-lagu yang masih segar yang juga menggunakan unsur kosakata pasif, seperti lagu-lagu dari Tulus. Dalam lirik-lirik di setiap lagunya, terlihat sekali bahwa penyanyi tersebut menjunjung tinggi bahasa nasional Indonesia tersebut. Tentu saja, terdapat pula kosakata yang mungkin asing di telinga kita, seperti “diorama” yang artinya “suatu kumpulan miniatur tiga dimensi (patung berukuran kecil) yang menggambarkan suatu pemandangan atau peristiwa tertentu”, “monokrom” yang artinya “suatu lukisan atau karya seni lain yang hanya terdiri dari satu warna” ataupun “sewindu” yang artinya “sudah delapan tahun”.

Tak hanya dari Indonesia saja, adapula lagu-lagu yang berasal dari luar negeri yang juga menggunakan kosakata pasif, seperti lagu “Terkemuka” dari rapper Malaysia, Benzooloo. Di dalam lagu tersebut, terdapat kata “ekuasi” yang artinya “persamaan”, “impresi” yang artinya “kesan”, serta “virtuoso” yang artinya “orang yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menguasai teknik memainkan alat-alat musik serta memainkan suara (nyanyian)”. Selain itu, adapula lagu “Pejamkan Mata” dari rapper Malaysia lainnya, Malique. Di lagu tersebut, terdapat kata “resiprokal” yang artinya “saling berbalasan”. Seperti diketahui, Malaysia dan Indonesia memiliki kesamaan dalam segi bahasa karena kedua negara berasal dari rumpun bahasa yang sama, yaitu Austronesia.

Upaya pemetikan kata-kata asing tersebut berdampak baik terhadap keberlangsungan hidup bahasa Indonesia. Eksistensi bahasa persatuan tersebut dapat terjaga di tengah derasnya arus zaman.  

Be Sociable, Share!