/Ancam Kebebasan Pers, Remisi Terhadap Pelaku Pembunuhan Jurnalis Harus Dipikirkan Ulang

Ancam Kebebasan Pers, Remisi Terhadap Pelaku Pembunuhan Jurnalis Harus Dipikirkan Ulang

LPM Progress – AA Narendra Prabangsa merupakan Jurnalis Harian Radar Bali, menurutnya seorang jurnalis tidak boleh menyerah dalam menyuarakan kebenaran dengan penuh tanggung jawab dan integritas. Untuk itu pada tanggal 3, 8 dan 9 Desember 2008 dia pun mengungkap fakta dugaan korupsi proyek-proyek Dinas Pendidikan di Kabupaten Bangli sejak awal Desember 2008 hingga Januari 2009 dalam tulisannya. Namun karena aksinya itu menyebabkan Prabangsa tewas dibunuh pada 11 Februari 2009.

Pembunuhan tersebut dilakukan atas intruksi Nyoman Susrama, adik dari Bupati Bangli kala itu, sekaligus pemimpin proyek pembangunan taman kanak-kanak dan sekolah dasar internasional di Bangli yang menjadi salah satu proyek yang disorot dalam pemberitaan Prabangsa.

Jenazah Prabangsa ditemukan seorang nahkoda kapal, mengapung di Teluk Bangsil. Kematiannya membuat jurnalis dan seluruh elemen masyarakat di Bali bergerak. Berkat kerja keras dan ikhlas serta tuntas semua pihak, akhirnya pelaku terungkap dan dibawa ke pengadilan. Nyoman Susrama (dkk) dinyatakan melanggar pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan pasal 51 ayat 1 ke-1 KUHP yakni secara bersama-sama turut serta melakukan tindak pidana pembunuhan. Akhirnya pada Februari 2010, Jaksa menuntut Susrama hukuman mati, lalu di vonis Pengadilan Negeri Denpasar dengan hukuman penjara seumur hidup.

Vonis yang dijatuhkan menjadi angin segar terhadap kemerdekaan pers dan penuntasan kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia dan membuat semua pihak Prabangsa lega dengan keputusan pengadilan kala itu. Sebab, kasus Prabangsa adalah satu-satunya kasus pembunuhan terhadap wartawan yang berhasil terungkap dan pelakunya diadili.

Tetapi pada Desember 2018 kemarin menjadi sebuah tamparan bagi yang mendukung kasus ini, kabarnya Presiden Joko Widodo memberikan remisi kepada Susrama berupa pidana penjara sementara, yakni dari seumur hidup menjadi 20 tahun. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna H Laoly mengungkapkan, Presiden Jokowi menyetujui pemberian remisi untuk Susrama dengan berbagai pertimbangan. Tetapi tanpa disadari keputusannya ini melukai sekaligus mengancam kebebasan pers yang diatur undang-undang.

Berbagai pihak mulai dari keluarga, istri dan anak Alm. Prabangsa lalu media, advokat, serta kelompok wartawan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, hingga anggota legislator (DPD RI), yaitu G. Pasek Suardika yang merasa kecewa, menuntut Presiden Jokowi agar mencabut remisi pembunuh Alm. Prabangsa.

“Kami kecewa dengan keluarnya keputusan presiden yang memberikan remisi kepada Susrama pelaku pembunuhan wartawan Radar Bali, Prabangsa. Karena memberikan keringanan hukuman kepada pelaku pembunuhan jurnalis ini jelas melukai perasaan bukan hanya keluarga korban tetapi juga kami para wartawan di Indonesia. Dengan memberikan keringanan ituk sama dengan menunjukkan sinyal sikap tidak bersahabat dan tidak mendukung iklim kemerdekaan pers di Indonesia dan kekecewaan kami juga karena kebijakan semacam ini bisa mendorong kultur impunitas di mana para pelaku kekerasan itu merasa seperti mendapat angin dan membuat mereka kurang rela jika melakukan hal yang serupa, ini yang harus kita hindari. Maka dari itu kami meminta Keppres itu dicabut.” Jelas Abdul Manan, Ketua AJI Indonesia, dalam siaran pers AJI menanggapi pemberian remisi tersebut.

Dari membuat tagar #cabutremisipembunuhjurnalis di media sosial, membuat petisi, sampai menggelar aksi solidaritas untuk Alm. Prabangsa, semua dilakukan para jurnalis bali hingga jurnalis se-Indonesia demi menolak remisi untuk Susrama.

Dalam media sosialnya, AJI Denpasar turut memposting berbagai tuntutan baik foto jurnalis yang melakukan aksi juga dengan berbagai macam ciutan rasa kekecewaannya, “Kami masih menunggu kabar baik itu tiba. Kami juga masih terus akan berkeringat untuk menuntut #cabutremisipembunuhjurnalis. Tak ada tempat untuk politisi rasis nan busuk yang mendadak muncul seperti pahlawan kesiangan. Kami steril dari kampret dan cebong.” Tulis salah satu caption di akun Instagram aji_denpasar. Semua pihak berharap Presiden Jokowi dapat adil dan tegas dalam memutuskan kasus pembunuhan jurnalis ini.

foto utama dokumentasi Luis Monroy/EPA diambil dari upi.com

penulis : Mutiara Putri

TAGS:
Be Sociable, Share!