/Debat Alot AMI, DPR RI

Debat Alot AMI, DPR RI

fb_img_1481986835813LPM Progress – Jakarta, Kamis (17/11) Aliansi Mahasiswa Indonesia ( AMI ) yang terdiri dari organisasi mahasiswa SMI, LMND, GPMJ, FMK, API, GMNI, dan FIS pada pukul 11.45 menggelar aksi unjuk rasa didepan gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (KEMENDIKBUD) dalam momentum Internasional Student Day (ISD), 17 November diabadikan oleh Serikat Mahasiswa Internasional sebagai Hari Pelajar Internasional untuk memperingati peristiwa tragis berupa penutupan semua universitas dan eksekusi beberapa orang mahasiswa oleh Reichsprotektor Ceko pada 17 November 1989 di Cekoslovakia.

“Kita akan menunggu sampe ada perwakilan dari DIKTI untuk menyambut kita masuk ke dalam, kita tidak akan beranjak dari gedung ini sebelum ada suatu kesepakatan dari KEMENDIKBUD juga dari DIKTI untuk mendukung perjungan kawan-kawan pelajar Indonesia untuk menetaskan pendidikan gratis”, ujar salah seorang orator. Aksi unjuk rasa berlangsung damai di depan gedung KEMENDIKBUD dan beberapa pimpinan organisasi berhasil masuk ke dalam gedung melakukan audiensi dengan pihak terkait.

Hasil audiensi mengeluarkan kesepakatan untuk melakukan audiensi kembali pada 10 Desember mendatang. “Pada intinya perjuangan kita tidak sampai disini dan kita akan kembali mobilisasi maupun menuntut tanggung jawab dari instansi pemerintah yang hari ini bertanggung jawab terhadap tata kelola pendidikan tinggi di Indonesia. Tadi sudah ada suatu bentuk komitmen bahwa jajaran DIKTI akan lebih terbuka dalam arus informasi, jadi ketika ada pengaduan-pengaduan itu kita bisa langsung datang ke sini dan demo disini” jelas Nuy selaku pimpinan SMI.

Tidak hanya di KEMENDIKBUD, AMI pun melanjutkan aksi unjuk rasanya ke gedung DPR MPR RI. Aksi unjuk rasa yang dimulai pukul 14.10 pun mendapatkan respon dan kembali beberapa pimpinan organisasi melakukan audiensi. Namun berbeda pada saat di KEMENDIKBUD, audiensi kali ini terjadi diskusi alot dan tidak membuahkan suatu kesepakatan.

Diakhir unjuk rasa, salah satu perwakilan massa aksi membacakan puisi yang berbunyi “ kau punya senjata aku punya semangat baja, kau punya amunisi aku punya berani, kau punya penjara aku punya jiwa, kau menangkap aku tak gentar, kau memaksa aku menolak, kau menembaki aku tak takut mati, kalau kau berani datang kesini jangan pergi keluar negeri”.

Sebagai penutup unjuk rasa yang diselenggarakan AMI dalam momentum ISD, AMI pun membacakan 10 sikap yang telah disepakati bersama, yaitu :
1. Lawan Kapitalisasi pendidikan dan wujudkan pendidikan gratis hingga perguruan tinggi.
2. Cabut paket regulasi yang meliberalisasi pendidikan Indonesia ! (UU Sisdiknas, UU Dikti, Permendikbud 36/2016, dsb).
3. Lawan kriminalisasi gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat.
4. Cabut SK drop out 21 mahasiswa Universitas Sumatera Utara.
5. Wujudkan demokratisasi kampus dan kebebasan berserikat bagi mahasiswa.
6. Lawan politik upah murah.
7. Lawan privatisasi dan komersialisasi kesehatan.
8. Hentikan keterlibatan militer dalam penyelesaian konflik sipil.
9. Stop penggusuran dan alih fungsi lahan.
10. Berikan jaminan kesejahteraan bagi para pekerja di kampus.
Pendidikan merupakan suatu proses dimana manusia secara individu berusaha untuk memperbaiki diri agar menjadi manusia yang lebih bermartabat. Mahalnya biaya pendidikan yang terjadi mengakibatkan terbatasanya rakyat dalam mengakses pendidikan. Hal ini disebabkan karena lemahnya fungsi negara dalam mengawal sistem pendidikan nasional yang bervisi kerakyatan. Mahalnya biaya pendidikan ini juga adalah upaya pelepasan tanggung jawab negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, slogan pendidikan hak rakyat Indonesia dan wujudkan demokratisasi di dunia pendidikan ini lah yang digunakan AMI dalam aksi unjuk rasa yang diikuti puluhan mahasiswa dan pelajar Indonesia. (ayusm)

Be Sociable, Share!