/Histori Yang Terhimpit Padatnya Pasar Baru

Histori Yang Terhimpit Padatnya Pasar Baru

LPM Progress – Mungkin Pasar Baru sudah tidak asing di telinga masyarakat Jakarta. Pusat perbelanjaan yang tepat berlokasi di pusat kota. Dipadati bangunan yang sudah berdiri sejak beberapa puluh tahun lalu, bahkan beberapa bangunan berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka.

Passer Baroe, Begitulah namanya tempo dulu, sebelum Batavia menjadi Jakarta. Tempat ini merupakan salah satu pusat perbelanjaan tertua di kota Jakarta. Jika kita berkunjung ke kawasan Pasar Baru, mungkin yang terngiang dipikiran kita adalah sekadar belanja seperti pasar pada umumnya. Nyatanya Pasar Baru sendiri tidak hanya sekadar untuk berbelanja, di sekitar Pasar Baru terdapat bangunan bersejarah dan beberapa tempat ibadah yang memiliki sejarah panjang.

Salah satunya adalah tempat peribadatan, sebuah kelenteng bernama Sin Tek Bio. Kelenteng bersejarah yang terhimpit diantara bangunan-bangunan di tengah padatnya pasar baru.

Dalam buku Riwayat Singkat Sin Tek Bio yang ditulis oleh Bambang S. dan terbit pada Juli 2006, Sin Tek Bio dibangun saat kawasan Pasar Baru masih berupa hutan belantara serta rawa. Baru pada awal abad ke-18, gedung-gedung megah mulai dibangun disana.

Kelenteng Sin Tek Bio atau Vihara Dharma Jaya merupakan salah satu dari 9 kelenteng utama dan tertua di Jakarta. Letaknya yang strategis, tepat berada di tengah pusat perbelanjaan Pasar Baru. Meskipun begitu kelenteng Sin Tek Bio hanya bisa diakses dengan berjalan kaki. Layaknya jalanan di perkampungan, jalur menuju ke sana tidak bisa diakses dengan kendaraan. Baik roda dua maupun roda empat.

Dilansir dari wartakota.tribunnews.com, Santoso Wiyoto, pengurus kelenteng Sin Tek Bio, mengatakan, meski letaknya berada di sekitar pusat perbelanjaan, lokasi vihara ketika didirikan di awal abad ke-17, sebenarnya terletak di pedalaman. ”Vihara ini berdiri sekitar lima kilometer dari Batavia yang dulu hanya meliputi Sunda Kelapa, Pasar Ikan, sampai Stasiun Kota. Padahal dulu area Pasar Baru hanyalah hutan belantara dan rawa-rawa. Dulu masih banyak buaya disekitar Kali Ciliwung.” jelas Santoso di kelenteng Sin Tek Bio, Jakarta Pusat.

Meskipun demikian pengunjung di Vihara ini cukup terbilang ramai. Nuansa merah dan patung-patung menjadi pemandangan khas di tempat ini. Kelenteng ini terbagi menjadi dua berdasarkan tuan rumahnya (Dewa yang diutamakan).

Gedung utama dan merupakan gedung yang cukup megah di kelenteng Sin Tek Bio ditempati (tuan rumah) oleh Hok-Tek-Ceng-Sin atau Dewa Bumi dan rezeki. Dalam buku riwayat singkat Sin Tek bio yang ditulis oleh Bambang S. dan terbit pada Juli 2006, Hok-Tek-Ceng-Sin merupakan Dewa favorit bagi etnis Tionghoa, karena pada umumnya mereka bekerja sebagai petani atau pedagang. Kaum petani menganggapnya sebagai Dewa Pelindung Bumi (tanaman atau palawija), sedangkan kaum pedagang menganggapnya sebagai Dewa Kesejahteraan atau Keselamatan.

Sedangkan gedung kedua yang berada tepat di sisi belakang kelenteng. Gedung tersebut ditempati (tuan rumah) oleh Dewi Kwan Im yang dipercaya sering menolong manusia disaat kesulitan. Dalam buku Riwayat Singkat Sin Tek Bio yang ditulis oleh Bambang S. dan terbit pada Juli 2006, Dewi Kwan Im di dalam ajaran Buddha dikenal sebagai Bodhisatva yang melaksanakan maîtri (cinta kasih) dan karunia (welas asih), yang dikenal sebagai Avalokitesvara Bodhisatva. Dewi Kwan Im dipuja sebagai Dewi yang selalu tergerak hatinya untuk menolong makhluk yang sedang menderita.

TAGS:
Be Sociable, Share!