/Imlek, Toleransi, dan Pelestarian Budaya di Klenteng Shia Djin Kong

Imlek, Toleransi, dan Pelestarian Budaya di Klenteng Shia Djin Kong

LPM Progress, Jakarta – Perayaan tahun baru China (5/2), klenteng (Bio) Shia Djin Kong mulai dipadati umat untuk beribadah, menariknya klenteng ini dijaga dan dirawat oleh seorang beragama Islam.

Mengenai perayaan imlek yang jatuh pada Selasa, 5 Februari 2019, menurut Teddy tidak ada yang istimewa hanya seperti tahun-tahun biasanya. “Ramainya hanya pada saat perayaan imlek, hari biasa ya kembali sepi,” Jelas Teddy. Meski begitu vihara ini memilki kebaktian rutin yang diadakan pada hari Senin sekitar jam 17.00 sampai jam 20.00.

Klenteng Shia Djin Kong merupakan sebuah klenteng yang berdiri di tengah kawasan lumayan padat, di Jatinegara, Jakarta Timur. Klenteng Shia Djin Kong dulunya bernama Vihara Dharma Kumala, lalu diganti dengan nama Shia Djin Kong. Klenteng yang sudah berumur lebih dari 70 tahun ini didirikan oleh Tung Djie Wie yang terpandang di lingkungannya pada masanya.

Dok. Progress/Aldi Wibowo

Bangunan klenteng yang menghadap ke timur ini dulunya adalah rumah tinggal dengan tempat ibadah di sampingnya. Namun sekarang sudah menjadi klenteng seutuhnya. Bekas tembok pembatas klenteng dengan rumah masih menjadi pemandangan dan saksi bisu dalam perkembangan klenteng.

Di depan pintu masuk klenteng terdapat bejana besar sebagai wadah dupa yang berukuran besar dan terbuat dari campuran kuningan. Wadah dupa itu merupakan pemberian dari seseorang, tertanggal 18 Januari 2011 di sisi wadah itu menunjukan tanggal pembuatan wadah kuningan tersebut.

Dok. Progress/Aldi Wibowo

Letak Klenteng yang cukup terisolir yaitu di dalam gang selebar sekitar 1 meter dan hanya dapat dilalui oleh pemotor tidak membuat klenteng ini menjadi sepi dari pemberitaan, itu dikarenakan banyak hal unik yang dapat menaikan pamor dari klenteng ini salah satunya yaitu Pak Teddy pengurus harian klenteng yang juga cucu dari pendiri klenteng ini yang beragama Islam, sehingga dapat mencerminkan toleransi antar umat beragama. Selain Pak Teddy ada 5 pengurus lain di klenteng itu yang berada di atas Pak Teddy dan biasa disebut Luco.

Etnis Tionghoa yang beribadah di klenteng ini banyak juga yang dari luar kota Jakarta tidak hanya dari Jakarta saja. Hal ini sudah menunjukkan bahwa klenteng punya pesona tersendiri yang mampu menarik warga untuk beribadah di klenteng ini.

Klenteng ini memiliki pemuda yang aktif dalam melestarikan budaya barongsai, di mana itu dapat menjadi pemasukan untuk klenteng dan juga para pemuda. Kehadiran kelenteng ini sangat berdampak baik dalam banyak aspek seperti, aspek sosial yang membuat masyarakat menjadi menghargai arti toleransi, juga aspek ekonomi di mana dapat memberdayakan pemuda. Selain menjadi lahan mencari rezeki, juga dapat melestarikan budaya tentunya.

Be Sociable, Share!