/Jejak Toleransi Beragama di Jatinegara, Bukti Bahwa Toleransi Itu Masih Ada

Jejak Toleransi Beragama di Jatinegara, Bukti Bahwa Toleransi Itu Masih Ada

LPM Progress – Belakangan ini kasus tentang intoleran kian marak di Indonesia, sebagai contoh kasus gereja St. Lidwina di Sleman diserang oleh orang tidak dikenal, atau saat ada pengusiran Bikshu di Tangerang tahun 2018 lalu.

Namun kasus kasus itu seakan terbantahkan oleh masyarakat di bagian timur Jakarta, tepatnya di Jatinegara, dimana kawasan itu dapat menjadi sebuah contoh penerapan toleransi pada sesama. Itu dibuktikan dengan adanya 3 rumah ibadah berbeda yang jaraknya tidak jauh yaitu gereja, masjid dan sebuah klenteng, di mana klenteng tersebut adalah yang tertua dibanding 2 rumah ibadah lainnya.

Bentuk toleransi lainnya dapat dilihat dari klenteng yang berdiri di tengah lingkungan mayoritas itu yang bernama Klenteng Shia Djin Kong. Klenteng yang  menghadap timur dan secara geografis berada di dalam gang sempit bernama Gg. 1 itu tidak serta merta mengundang masyarakat untuk bertindak intoleran.

dok. Progress/aldi wibowo

Dengan adanya klenteng itu dapat menjadi sebuah mata pencaharian bagi pemuda sekitar dengan menjadi pemain barongsai yang diinisiasi oleh klenteng tersebut. Saat ulang tahun klenteng masyarakat sekitar klenteng ikut gotong royong membantu acara klenteng tanpa memandang apa agama. Karena klenteng ini sudah berdiri puluhan tahun dan merupakan tempat ibadah pertama di daerah tersebut, jadi masyarakat pun sudah menaruh hormat pada pendiri klenteng dan menganggapnya seperti sesepuh sejak dulu.

Hal unik lain nya yang dapat di temui dari klenteng tersebut adalah seorang Pak Teddy, Pak Teddy adalah warga keturunan TiongHoa yang diamanahi oleh orang tua nya untuk mengurus klenteng peninggalan kakeknya itu, dan Pak Teddy adalah seorang muslim. Meski seorang muslim, ia juga tau tentang tata cara ibadah di klenteng tersebut.

Keluarga Pak Teddy pun banyak yang berbeda keyakinan ada yang Buddha, Kristen dan Islam, namun momen imlek atau hari besar Buddha lainnya menjadi salah satu ajang untuk berkumpul bersama keluarga. Hal itu menggambarkan bahwa daerah tersebut semakin kaya dengan toleransinya dan dapat menjadi percontohan untuk Indonesia agar semakin damai dan dapat hidup berdampingan walaupun berbeda keyakinan. Seperti semboyan Indonesia yang tertulis pada burung garuda sebagai lambang negara yaitu “Bhineka Tunggal Ika”.

(Aldi, Darmawan)

Be Sociable, Share!