/Keterbatasan Tak Menjadi Batas

Keterbatasan Tak Menjadi Batas

LPM Progress – Keterbatasan tak menghalangi Tyo dalam meneruskan hidupnya. Prasetyo Utomo, Mahasiswa angkatan 2011 Program Studi Bimbingan Konseling, Universitas Indraprasta PGRI adalah mahasiswa yang bisa dibilang memiliki keterbatasan yang membuatnya berbeda dari yang lain. Menurutnya, keterbatasan yang ia miliki sudah ada semenjak ia kecil. Entah dari lahir atau karna sebuah kecelakaan. Tyo tak pernah mau tau dan tak mencoba mencari tau penyebab itu, Karena sekali ia menanyakan hal itu kepada orang tuanya, mereka akan sedih.

Keterbatasan tak menjadi batas untuk tyo melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Meskipun pada awalnya, ia bekerja selama setahun sebagai pengepak baju disalah satu toko. Orang tuanya juga tak pernah memaksa ia untuk berkuliah, mereka hanya memotivasi tyo untuk lebih mengarahkan tujuan hidupnya kedepan. Maka dari itu, ia memutuskan untuk kuliah.

Tyo mengambil Jurusan Bimbingan Konseling. Ada alasan tersendiriuntuknya memilih Program Studi tersebut, “ Jujur. Pertama-tama saya mengambil jurusan BK itu karna ingin mem-BK-an diri saya sendiri. Dengan kondisi saya sendiri yang seperti ini, saya harus bisa menerima diri saya apa adanya.” Ujarnya.

Keterbatasan tak menjadi batas, bahkan sambil kuliah Tyo pun berjualan kecil-kecilan di dalam Kampus UNINDRA gedong, Tyo salah sato dari ribuan mahasiswa yang bisa berjualan disana. Bukan karna keterbatasannya, Bukan juga karna terKhususkan dirinya, melainkan semua karena kemauannya. Awalnya, Tyo berjualan didepan gerbang kampus, namun mendapat terguran security dan setelah melewati proses perizinan, ia bisa berjualan di dalam area kampus.

Dagangan yang dijajakan bukan sepenuhnya milik Tyo. Dagangan ini sesungguhnya milik salah satu Dosen BK (yang tidak bisa disebutkan namanya). Dagangan ini ia jual kembali dan membagi hasil keuntungan. Sehari, jika memenuhi target, ia mendapatkan penghasiln Rp.50.000/hari. Ung yang didapat digunakan untuk keperluan kuliah nya sehari-hari.

Soal gengsi, sama hal nya dengan orang lain, ia sempat merasa gengsi pada awlnya. Baginya kampus itu adalah tempat mencaru pendidikan. Tapi ia berkeinginan kuat untuk melakukan pekerjaan. Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, ia merasa punya tanggung jawab untuk adik-adiknya. Dan lagi, mencari pekerjaan bukanlah perkara yang mudah.

Cita-cita Tyo hanya ingin membahagiakan Orang tuanya dan tak mengecewakan orang lain. Saat ini Tyo dalam pengerjaan skripsi nya, setelah skripsi nya terhambat oleh beberapa mata kuliah, Tyo berharap sekalipun nanti ia sudah lulus dari kampus ini, ia masih bisa berdagang disini.

(Nandya/Tina)

Be Sociable, Share!