/May Day

May Day

LPM PROGRESS –  Hari Buruh Internasional (Mayday) yang diperingati setiap tanggal 1 Mei merupakan hari libur tahunan di beberapa negara.

Hari buruh diperingati berawal dari usaha  gerakan serikat buruh untuk merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial para buruh.

Di Indonesia sendiri hari buruh diikuti oleh para perserikatan kerja yang menuntut Hak kaum buruh lebih diperhatikan kesejahteraannya.

 

Jakarta (01/05) Unjuk rasa puluhan ribu buruh yang tergabung dari kurang lebih 19 elemen serikat buruh terkonsentrasi di beberapa titik, khususnya di daerah patung kuda yang menjadi titik kumpul akhir buruh dengan sasaran utama adalah istana negara.

 

Dalam aksi MAYDAY tersebut, mereka menuntut sejumlah hal, seperti mencabut PP No.78 Tahun 2015 tentang Dasar Pengupahan karena adanya formula kenaikan upah minimum yang membuat kenaikan upah minimum setiap tahunnya menjadi baku, serta beberapa tuntutan lainnya seperti menghapuskan sistem kerja kontrak, pemagangan, Outsourching, dan perbaikan pelayanan BPJS kesehatan yang berisi tentang pengupahan.

“Hak dari para pekerja untuk berunding terkait dengan upah itu hilang, jadi pekerja selama ini punya dewan pengupahan sudah tidak berfungsi lagi, sehingga sangat merugikan untuk kaum pekerja” ujar Fredi selaku koordinator KSPSI.

 

Hadir pula Andi Gani Nena Wea Presiden KSPSI (Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia). Tuntutan yang dilayangkan tak jauh berbeda, mereka menambahkan tuntutan untuk meminta karyawan Freeport tetap bekerja.

 

Dalam  perjalanan menuju istana negara, massa aksi dihadang oleh Blokade personel kepolisian di depan Gedung Kementrian Pariwisata. Dalam menjalankan aksinya para buruh telah meminta izin kepada pihak kepolisian agar melakukan aksi di depan istana negara namun malah di hadang. “Tetapi kami saat ini terus melakukan negoisasi kepada pihak kepolisian agar bisa melakukan orasi di depan gedung istana”ujar Fredi.

 

Para buruh jengkel dan kesal sehingga mengakibatkan gesekan antara kepolisian dan  para buruh. Sehingga para buruh menyalakan kembang api sebagai tanda kekesalan mereka kepada

Kapolres metro Jakarta Pusat.

Suyudi AS mengimbau kepada para buruh untuk tetap kondusif dalam menyampaikan aspirasinya, serta tidak adanya tindakan-tindakan yang bisa mengganggu ketertiban umum.

Beliau berpesan agar dalam melakukan aksi serta mengeluarkan aspirasi agar terkendali “Semoga tidak adanya pihak-pihak yang memanfaatkan aksi tersebut” tambah Suyudi AS.

 

 

Pada pukul 17:00 WIB para buruh membubarkan diri dengan tertib.

 

“Terimakasih kepada pihak kepolisian yang telah menjaga dan mengamankan aksi kami hari ini yang damai, semoga Jokowi mendengar aspirasi kami, hidup buruh hidup buruh Indonesia” ujar Orator buruh

“Semoga pemerintah merubah PP No.78 dan begitu juga kebijakan Outsourching yang sangat membebani kaum buruh tambang” lanjut Fredi. (Azzam/Ik

Be Sociable, Share!