/Resensi Film The Pursuit of Happyness, Ketika Ayah dan Anak Bersemangat Menggapai Kebahagiaan

Resensi Film The Pursuit of Happyness, Ketika Ayah dan Anak Bersemangat Menggapai Kebahagiaan

Sumber foto : doorsporty.com

The Pursuit Of Happyness merupakan salah satu film yang mengisahkan perjalanan hidup seorang ayah bersama anaknya yang menghadapai sulitnya kehidupan dan berjuang untuk melewatinya. Kisah yang berlatar belakang biografi dari seorang salesman mesin pemindai kepadatan tulang (Bone Density Scanner) yang berhasil menjadi seorang pialang saham, diperankan oleh Will Smith, film yang berdurasi 117 menit dan disutradarai oleh Gabrielle Muccino akan membuat kita terispirasi.

Dikutip dari wikipedia.com, Film yang rilis pada 15 Desember 2006 dan pernah menempati posisi teratas di Box Office dengan pendapatan $26,541,709 diakhir pekan.

Kisah film ini bermula pada Chris Gardner seorang salesman mesin Bone Density Scanner, mesin ini adalah hasil investasi bersama dengan sang istri Linda. Mesin yang hanya dapat dijual ke rumah sakit kepada para dokter serta harganya yang mahal sangat menyulitkan Chris untuk menjualnya. Ia menargetkan untuk menjual mesin ini sebanyak 2 buah per-bulan. Usaha Chris untuk menjual mesinnya, tidak kenal lelah, pergi dari rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Sampai terjadi kecerobohannya sendiri memarkir mobilnya sembarangan saat mengunjungi rumah sakit, membuat ia selalu ditilang. Ditambah dengan tunggakan penyewaan rumah, dan pembayaran pajak krisis ekonomi yang dialami keluarganya membuat Linda membantu Chris dengan bekerja di sebuah pabrik laundry. Dengan keadaan yang semakin tertekan, Chris yang belum dapat menjual mesinnya membuat Linda frustasi dan mengambil keputusan untuk pergi ke New York. Meninggalkan Chris dan anak laki – lakinya Christoper.

Awal perjuangan Chris bersama anak laki – lakinya Christoper dimulai, segala krisis yang sedang melanda, Chris kehilangan mobil serta apartemennya karena sudah tidak mampu membayar. Chris yang hampir berputus asa untuk dapat menghidupi anaknya, mencoba melamar menjadi pialang saham. Saat melamar Chris menghadapi insiden, mesin pemindai tulangnya dicuri. Akibat kecerobohannya lagi, menitipkannya kepada pengamen. Chris memang selalu membawa mesinnya kemana pun ia pergi, mesin ini sangat penting untuk dia.

Chris dan Christoper menempati sewa rumah yang lebih murah, sembari Chris terus berjuang untuk mendapatkan uang dari hasil penjualan mesinnya. Chris mendapat tawaran magang di perusahaan Pialang Saham Dean Witter Reynolds, namun selama magang Chris tidak dibayar. Chris sudah tidak memiliki uang akhirnya ia diusir dari tempat sewanya dan bersama anaknya, ia tidur ditempat umum bahkan toilet stasiun, sebelum memutuskan untuk tidur di rumah singgah. Untuk mendapatkannya Chris juga tidak mudah, setiap hari ia harus mengantri panjang, hal ini dilakukan untuk anaknya Christoper agar tetap terjaga.

Chris mengikuti magang selama 6 bulan dengan semangat dan giat, agar mendapat pekerjaan dan dapat mengubah nasibnya. Sembari magang Chris tetap berusaha menjual mesin Bone Density Scanner miliknya. Hasil pengumuman di perusahaan pialang saham tiba, Chris yang diterima menjadi salah satu karyawan membuat dia sangat bahagia, dia dapat mengubah nasibnya dan membahagiakan anaknya setelah melalui proses panjang. Bahkan Chris dapat mendirikan perusahaan pialang sendiri bernama Gardner Rich.

Banyak adegan yang membuat kita terkesima, seperti Chris harus ditahan karena tidak dapat melunasi segala tagihan hutang tilangnya, dan esok harinya ia ada interview di perusahaan pialang saham Dean Witter Reynolds. Chris berlari dengan berpakain yang tidak layaknya orang ingin melakukan interview kerja. Namun atas kepercayaan dan semangatnya ia dapat menjawab pertanyaan sederhana, para petinggi perusahaan tersebut pun tertawa terlihat kagum atas jawaban Chris. Sikap kejujuran serta keyakinan seperti ini tidak dapat ditandingi dari penampilan untuk penilaian seseorang.

Kemudian adegan saat Chris dan Christoper diusir dari tempat sewa rumah. Chris bersama anaknya menyusuri jalan, mencari tempat untuk dapat dijadikan peristirahatan sejenak malam itu. Sempat berusaha ke rumah kerabatnya, namun hasilnya nihil. Duduklah mereka di sebuah stasiun. Mereka bercakap-cakap kecil, Chris yang tidak tega melihat Christoper berusaha menghibur anak laki satu-satunya. Malam itu mereka hanya dapat tidur di toilet umum, Chris berusaha menjaga pintu agar orang lain tidak dapat masuk. Ini dilakukan demi anaknya Christoper, ia sangat sedih melihat keadannya dirinya tidak dapat membahagiakan anaknya. Adegan ini membuka hati dan pemikiran kita, betapa besar perjuangan seorang Ayah demi kenyamanan dan kebahagiaan anaknya untuk tetap selalu menjaga agar terasa aman. Ini juga menggambarkan minimnya rasa belas kasih orang lain, bahkan kerabat.

Dari keseluruhan adegan, banyak sekali perjuangan – perjuangan Chris untuk menjual mesin tulangnya, mendatangi pelanggan para dokter, mencari tempat tinggal sementara untuk anaknya, mendapatkan klien saham. Dalam film ini Chris juga mengajarkan anaknya sebuah perjuangan untuk mencapai kebahagian, Chris yang begitu peduli dan sangat menyayangi Christopher. Christopher yang menemani Chris melewati segala kerumitan masalah yang dihadapinya.

Namun hal yang menarik perhatian terdapat pada penulisan judul film dan adegan, ketika Chris mengantar anaknya Christoper ke penitipan anak, menegur tukang sapu memberitahu tulisan ditembok itu bukan Happyness menggunakan “y” melainkan menggunakan “i” menjadi Happiness, hal ini juga menjadi judul dari film tersebut “The Pursuit of Happyness”. Untuk orang-orang yang tidak terlalu memperhatikan dan tidak mengetahui kata yang sebenarnya tidak mempersalahkan. Kata “Happyness” dan “Happiness” memang dalam pengucapannya sama, tetapi salah dalam penulisan, jelas ini akan berbeda maknanya, dan dapat menimbulkan kekeliruan.

You got a dream, you gotta protect it. People can’t do something themselves, they wanna tell you that you can’t do it. You want something? Go get it”. – Will Smith

Be Sociable, Share!