/UAS Saat Puasa Dilematika Contekan

UAS Saat Puasa Dilematika Contekan

“Galau contekan, Banyak mikir, Kurang dzikir”

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh..

Alhamdulillah hirobil alamin, wabihi nasta’inu alaumurridunya waddin, washsolatu wassalamu a’lla asrofil anbiayi walmursalin wa a’lla alihi wasohbihi azmain, amma ba’du.

Saudaraku yang insyaallah dirahmati Allah. Alhamdulillah begitu mulianya bulan suci ramadhan, apa yang kita lakukan atas nama Allah, pahalanya dilipatgandakan. Tidak hanya itu, keberkahan bulan yang suci ini juga berlaku untuk kita para mahasiswa yang akan melaksanakan UAS. Wah tapi sayang sekali, moment yang jarang kita temukan ini, sering disia-siakan oleh banyak mahasiswa. mereka berpendapat bahwa “Nilaiku tergantung pengawasku”, what? Maksudnya apa? Ini dia, maksudnya kalau pengawas baik, maka nilaipun akan juga baik. Layak hukum perekonomian yah? Semakin banyak konsumen, maka hargapun semakin meningkat. Apakah pendapat itu berlaku pula di bulan yang suci ini? Dilematikakah para mahasiswa yang membudidayakan kebiasaan buruk itu?

Keberkahan di bulan yang insyaallah penuh barokah ini, seharusnya menjadi kesempatan baik untuk para mahasiswa yang akan melaksanakan UAS. Bukan malah dilematika karena takut tidak dapat menjawab soal UAS. Diterima atau tidaknya ibadah seseorang memang itu urusan Allah. Jadi bukan berarti, ketika tidak dapat menjawab soal UAS, mereka membuat hukum pengahlalan untuk menyotek. Wah wah wah, mau jadi apa generasi muda bangsa Indonesia, kalau setiap mahasiswa menghalalkan contek-mencontek. Di bulan lain, selain bulan suci ramadhan saja ketika sedang ujian, ada yang bertanya pada teman atau membuka kertas contekan itu diharamkan, apa lagi di bulan suci ramadhan? Wah dosa memang urusan diri sendiri pada Allah yah, tetapi cobalah berpikir rasional, berusaha sendiri dan hasilnyapun akan lebih puas.

Ada beberapa tips, agar kita para mahasiswa, yang akan melaksanakan UAS. Dijauhkan dari rasa takut tidak bisa menjawab dan dilematika oleh soal, yang dapat menggangu ibadah puasa di bulan suci ramadhan. Berhenti galau!, kurangi mikir, perbanyak dzikir!

1. Ikhtiyar
Ikhiyar yang berarti berusaha, berusaha di jalan yang benar dan dilakukan hanya karena Allah. Jangan artikan usaha dalam bentuk mencontek ya! Mencontek memang salah satu bentuk usaha, tetapi usaha yang tergolong negatif. Berusahalah sekuatnya, berusaha yang dimaksud disini bukan hanya belajar mata kuliah yang akan diujikan dalam UAS. Banyak kegiatan yang bermanfaat di bulan suci ramadhan ini, seperti membaca al-Qur’an, mendengarkan tausyiah dan perbanyak berdzikir. Karena, semakin banyak kita membaca al-Qur’an dan berdzikir, semakin mudah juga kita dalam menerima pelajaran apapun. Jangan hanya memohon tanpa mengingat-Nya, karena cara itu seperti menodong. Mengingat-Nyalah, setelah itu barulah memohon permudah segala usaha.

2. Percaya Diri
Percaya diri, itu salah satu hal yang wajib kita lakukan. Pada dasarnya, manusia ialah tempatnya salah, jangan pernah takut salah dengan apa yang kita lakukan, kalau niatnya kebaikan. Sama halnya seperti UAS, jangan takut salah menjawab soal UAS, karena Allah mengetahui hamba-Nya yang benar-benar berusaha. Banyak orang yang suksespun, yang luput dari kesalahan, karena kesalahan itu adalah salah satu pelajaran agar kita lebih tahu kebenaran. Jadi cobalah husnudzon pada diri sendiri, bahwa kita yakin dapat menyelesaikan soal UAS kelak.

3. Tawakal
Tawakal yang berarti berserah, berserah kepada-Nya akan segala usaha yang telah dilakukan. Ketika kita sudah perbanyak berdzikir, perbanyaklah berserah, apalagi di bulan yang suci ini. Obral pahala loh! Jadi kumpulkan segara, usaha-usaha yang dilakukan di jalan yang benar, hilangkan segala kebiasaan buruk yang menjadi budaya, sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak ada yang sia-sia dengan apa yang kita lakukan, maka berhusnudzonlah kepada Allah. Allah Berfirman dalam QS. Ali ‘Imran/3 ayat 159, yang berbunyi:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

4. Ikhlas
Setelah ikhtiyar yang dilakukan semampunya sudah terlaksana, mualilah bertawakal dan ikhlas dengan segala hasilnya. Banyak orang yang berusaha, namun hasil yang hasilkan tidak berjalan dengan lancar. Mungkinn dibalik usaha mereka, tidak lupa untuk tawakal dan ikhlas. Apapun yang terima oleh Allah, itulah hasil belajar dan tidak ada paksaan. “Dengan nama Allah, aku serahkan semuanya kepada Allah, sebab tiada daya dan upaya kecuali atas pertolonganNya”. Doa yang diajarkan Nabi Muhammad kepada kita ketika menyerahkan semua urusan kepada Allah adalah:
بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لَا حَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
“Dengan nama Allah, aku serahkan semuanya kepada Allah, sebab tiada daya dan upaya kecuali atas pertolonganNya”.

(Putri)

 

Be Sociable, Share!