/UKM Silat yang Tersendat

UKM Silat yang Tersendat

LPM PROGRESS – Pesilat Unindra telah resmi menjadi UKM di Universitas Indraprasta PGRI pada Minggu (18/11) lalu, melalui MUBES (Musyawarah Besar) di Sekretariat BEM yang dihadiri oleh BPH dan anggota silat, perwakilan BEM serta Bapak Eko Yulianto selaku bagian kemahasiswaan. Silat di Unindra berawal dari Pekan Olahraga Mahasiswa se-DKI pada tahun 2016 dan mendaftarkan diri untuk membawa nama Unindra secara perorangan (belum saling mengenal). Kemudian memiliki ide untuk membangun UKM dengan harapan menjadi wadah pemersatu mereka yang berprestasi dibidang pencak silat, kerena menjadi sebuah UKM belum bisa diwujudkan, akhirnya mereka membangun komunitas sejak Januari tahun 2017.

Anggota yang terdaftar dari awal silat berdiri, sekitar 60 orang. Karena menjadi komunitas belum boleh melakukan promosi tentang kegiatan komunitas Pencak Silat ini. “Kegiatan ini penting untuk mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI karena selain untuk bela diri yaitu kita bisa ikut pertandingan, juga kita bisa melestarikan budaya Indonesia.” ujar Adit Hermansyah selaku ketua UKM Pencak Silat. Pesilat Unindra memiliki rencana untuk perekrutan anggota lebih banyak yaitu pada tahun depan saat Festival Ormawa. Adit mengakui sebenarnya banyak sekali mahasiswa yang berprestasi di Universitas Indraprasta PGRI dibidang pencak silat, terlebih ada yang sudah menang dalam tingkatan nasional bahkan mewakili nama Indonesia.

Dengan adanya komunitas ini, semakin banyak mahasiswa yang berprestasi dan sering bertanya ke bagian kemahasiswaan untuk beasiswa jalur prestasi, karena jika mereka bertanding membawa nama UNINDRA. “Kami memfasilitasi dan memberi apresiasi atas prestasi mereka,” ujar Bapak Eko Yulianto, M.Pd., selaku ketua bagian kemahasiswaan. Kemahasiswaan juga sebagai penampung yang mewadahi mahasiswa berprestasi dibela diri pencak silat, kemudian juga memberi rekomendasi agar silat dijadikan UKM karena sudah memenuhi salah satu syarat menjadi UKM yaitu berprestasi, namun untuk regulasi pembuatan UKM dapat dikoordinasikan dengan pihak bersangkutan.

Untuk menjadi sebuah UKM ternyata memiliki banyak hambatan dan kendala. “Banyak sekali prosesnya seperti menyusun PPTO dan berkas-berkas yang sudah diperlukan, namun ada pihak yang mempersulit ” ujar Adit Hermansyah. Pihak silat mengakui bahwa tidak memiliki suatu kendala apapun karena mereka sudah menyusun PPTO dan berkas-berkas yang diperlukan, namun ada pihak yang mempersulitnya.

Bahkan banyak sekali janji yang diberikan, namun tidak terlaksanakan, seperti dijanjikan bahwa secepat mungkin akan mengadakan MUBES dan dilegalkan tetapi pada nyatanya pihak silat pun tidak mendapat undangan untuk MUBES. Janji akan dilegalkan sudah terhitung 1 tahun 10 bulan, dan selalu saja tersendat. “Dari pihak kami pun memberikan sedikit seperti ancaman apabila tidak dilegal-legalkan kami sudah ingin memberikan surat langsung kepada Bapak Rektor,” tegas Adit Hermansyah. Namun Adit mengakui bahwa ancamannya itu tidak jadi dilakukan karena pihak terkait sudah meresmikan UKM Silat pada tanggal 18 November 2018.

Menurut Bapak Eko Yulianto, M.Pd. prasyarat yang paling utama untuk menjadi UKM yaitu faktor waktu saat menyiapkan dan memenuhi segala macam berkas yang diperlukan seperti PPTO yang tidak mudah dan butuh proses yang sangat panjang dan memakan waktu yang lama. Dan salah satu cara untuk menjadi sebuah UKM paling penting adalah prestasi yang ditunjukkan dan aktivitas-aktivitas yang sekiranya bermanfaat. “Harapan saya dan pesan saya ke mereka langsung ketika MUBES kemarin, agar mengedepankan prestasi minat dan bakat untuk terus berjalan setiap semester, setiap tahun, tapi disisi lain juga harus menyeimbangkan dengan akademik agar tidak ketinggalan,” tambah Bapak Eko Yulianto, M.Pd.

(Ayu, Wandari, Anung )

TAGS:
Be Sociable, Share!