/Utuh Bersamamu

Utuh Bersamamu

Di sebuah ruang kecil, Risma masih duduk meringkuk di samping bawah tempat tidurnya. Matanya sembab, pipinya biru lebam. Sejak pertengkaran yang memanas dengan kekasihnya, Dandi. Gadis itu masih menatap dengan tatapan kosong. Matanya tersirat kesedihan yang teramat dalam. Tentang kegetiran. Rambutnya lusuh, bibirnya terus dia gigit agar isak tangisnya terdengar samar.

Raka, masih duduk di depannya. Mencoba menghiburnya. Menenangkan pikirannya juga hatinya yang teramat terluka. Sejak pertengkaran satu jam yang lalu, Risma masih saja terisak tersedu-sedu. Tangisnya belum mereda. Frame yang pecah menjadi beberapa keping masih berserakan di sampingnya dia duduk bertekuk lutut.

“Risma, tenanglah! Berhentilah untuk menangis. Lelaki brengsek itu, tidak pernah pantas untuk kamu tangisi.”

Risma masih tertunduk dalam. Raka lantas memeluknya. Hatinya ikut teriris melihat sahabatnya terluka bukan main. Seketika cahaya riang di raut wajahnya padam. Wajahnya nampak mendung dan murung.

“Jika saja engkau mau mendengarkan aku, mungkin ini tak pernah terjadi. Seharusnya, aku tidak pernah membiarkan lelaki bangsat itu melukaimu sedemikian parah, Risma. Seharusnya, aku menjagamu.” Raka membatin .

Satu minggu setelah pertengkaran itu, Risma berubah menjadi sangat pendiam. Lebih suka menyendiri dan menutup diri. Mentalnya masih sangat kacau. Tubuhnya makin terlihat kurus. Nafsu makannya berantakan, bahkan tubuhnya terlihat tidak ter-urus.

Piring makanan di depannya hanya dipandangi dengan tatapan kosong. Sendoknya bahkan tanpa disentuh sekalipun.

“Risma, makanannya keburu dingin. Sesuap saja.! Perutmu kosong, nanti kamu masuk angin.” Raka masih mencoba membujuknya, sembari mengusap punggung tangan; menenangkan.

“Apa mau, aku suapin?”

Risma menggeleng, matanya masih memperhatikan layar ponselnya yang berwallapaper dirinya dengan Dandi. Matanya mulai berkaca lagi. Saat bayangan satu minggu yang lalu hadir kembali. Wanita mana yang tidak patah, jika melihat lelakinya yang dicintai berciuman dengan perempuan lain. Bahkan, lelaki yang dicintainya berani bermain di belakangnya. Hanya untuk membela perempuan lain, Dandi, berani menampar wajahnya yang mulus. Dan lari dengan selingkuhannya. Cintanya berdusta.

“Aku tidak pernah berpikir, engkau melakukan ini, Dandi. Kenapa aku yang engkau tendang dari kehidupanmu.? Apa bagimu aku kurang mencintaimu? Di mana perasaanmu, Dandi. Perjuanganku tidak pernah sama sekali ternilai di matamu. Dasar laki-laki sialan, dasar laki-laki bajingan, aku benci kamu.!”

Risma masih diselimuti emosi, sedari tadi dia hanya berbicara dengan foto yang ada di ponselnya. Raka yang berada di depannya, hanya bisa mengepal kedua tangannya dengan rasa benci. Dia ingin menonjok laki-laki bangsat itu. Laki-laki yang telah menyia-nyiakan perempuan yang teramat dalam mencintainya. Perempuan yang selama ini bahkan selalu bersamanya.

Tangisannya tak pernah terdengar oleh siapapun. Hanya hujan-hujan yang terlihat di sudut pipinya. Hatinya terlalu berkabung. Hatinya masih belum bisa mengerti. Lukanya terlalu parah untuk segera disembuhkan dan dipulihkan. Titik kebahagiannya tidak lagi bisa dituju oleh rencana-rencana indah yang telah disusunnya dengan baik. Dia ingin bertahan justru hatinya dilepaskan paksa. Dia telah memilih Dandi dengan segenap kepastian. Namun, kecewa melepaskannya dengan sengaja.

Langit-langit kafe Whatsapp masih sedikit lengang. Matanya mulai terlihat memerah, akibat menangis yang tak kunjung berhenti. Sedang musik yang memenuhi ruang kafe terasa sebagai nyanyian kesedihan tentang kepiluan hati. Ice capuccino yang dipesan, hanya ditonton. Dibiarkan hambar tanpa diseruput. Bibir gelasnya pun tanpa pernah dicium oleh bibirnya yang mungil.

Raka, pindah duduk di sampingnya. Membiarkan flanel kotak-kotak merahnya basah. Bahunya siap untuk tempat bersandar perempuan yang dicintainya. Rambut hitam legamnya mulai diusap dengan lembut olehnya.

“Menangislah! Sesuka perasaanmu, Risma. Dengan menangis, mungkin kamu akan merasa lebih tenang. Jangan lupakan bahagiamu. Aku tahu, kamu sangat mencintai dia. Tapi, hatimu telah dibuatnya patah. Jangan meratapi sedih yang sudah berlalu. Percuma, Risma. Yang harus kamu kasihani, adalah perasaanmu sendiri. Setiap kehilangan akan ada fase menemukan lagi.”

“Bahkan, lelaki bajingan itu tidak pernah pantas kamu tangisi. Sia-sia, dia tidak pernah melihat lagi ke arah hatimu, Risma.”

Beberapa saat kemudian, tangisnya mulai samar tak terdengar. Dan memang, pada akhirnya, perasaan hanyalah perasaan. Wanita akan lebih rapuh ketika harapannya patah, wanita akan terihat sangat lemah dan payah. Namun, setiap perjuangan tidak selalu menemukan hasil. Harus siap dengan segala kekalahan yang telah tuhan gariskan. Bukankah setiap kita menemukan kehilangan, kita juga akan banyak menemukan.

Patah hati kerap membuat kita kecewa, menangis tergugu karena harapan yang telah tanggal, keinginan memiliki yang lebih banyak menyakiti hati, bukankah semuanya harus ada porsinya dengan wajar? Dengan kita merusak diri sendiri, kesedihan tidak akan pernah berakhir.

****

Setelah hampir tiga bulan perasaanya mulai membaik, mulai belajar apa itu melepaskan dengan hati lapang. Mulai menjalani kehidupan yang baru. Raka yang tidak lelah memberi semangat, meyakinkah bahwa semua akan baik-baik saja. Raka yang setiap saat ada untuknya. Mengisi segala hampa, meyakinkah bahwa kesempatan cinta sejati itu ada. Kenangan justru datang menimpanya. Merenggut hari-hari bersamanya.

Patah hati yang membuatnya kalah, telah membuatnya berjalan seimbang tanpa akan tumbang. Dan, Dandi menumbangkannya lagi dan lagi. Dia memintanya untuk bertemu. Malam itu, Dandi, menjemputnya untuk makan malam berdua. Risma, dijadikan ratu semalam olehnya. Mini cooper warna merah mengkilap parkir di depan kos-an-nya. Lingri selutut berwarna hitam cantik membalut tubuhnya yang ramping. Hill tinggi yang membungkus kakinya, warna silver keemasan anggun menutupi jari kakinya yang panjang. Rambut sebahu yang diurai, membuat Risma terlihat sangat memukau.

Sedang Raka, di sudut kamarnya membiarkannya hatinya patah. Dia tidak berhak melarang Risma untuk menemui, Dandi. Statusnya hanya sebatas sahabat, bukan seorang kekasih. Raka masih berusaha keras menyembunyikan setiap kecemburuannya. Menyembunyikan perasaannya dalam-dalam. Menahan sesak yang mulai melilit hatinya. Dia hanya butuh waktu untuk sendiri. Berbicara lebih banyak lagi dengan hatinya. Menyelami hingga lelah. Menikmati denyut yang merobek segala sepi. Beku mulai menyelami hati yang patah.

Dirinya tidak akan pernah bisa sepadan dengan Dandi yang memiliki segalanya. Materi berkecukupan, tampangnya yang gagah dan tampan. Sedangkan dirinya, hanya seorang mahasiswa biasa yang hidup dari keluarga sederhana. Bukan dari keluarga kaya raya yang terpandang bahkan terhormat. Mahasiswa biasa yang memiliki hati yang tulus, serta cinta yang besar dari apapun yang ada di dunia.

Malam ini, kafe Whatapp terlihat sepi. Hanya ada Risma dan Dandi, berdua di sana. Tanpa ada pelanggan satupun kecuali mereka. Musik yang memenuhi ruangan pun penuh dengan musik romantis. Lagu miliknya Maroon 5 ‘she will be loved’ masih berdenging berputar di langit-langit kafe.

Ruangannya didesain dengan sangat manis. Penuh dengan bunga mawar di setiap sudut ruangnya. Mereka duduk di meja yang telah disediakan sedemikian rupa. Dengan lilin-lilin yang menyala di meja. Makan malam yang sempurna.

Sejenak mereka berdua hanya saling diam. Sesekali saling menatap, percakaan mulai terasa kaku. Sepatah kata pun tak terucap. Setelah lima belas menit saling diam, memilih kata, Dandi membuka percakapan. Mulai berbicara.

“Risma, kamu tahu mengapa aku mengajakmu bertemu? Aku, menyiapkan semua ini dengan sempurna.?”

Risma hanya menggeleng pelan, ada sesuatu hal yang terasa hilang dari batinnya. Pikirannya terus saja tertuju pada Raka. Melambatkan butir darah, kegundahan mulai mengalir di sekujur tubuhnya. Baginya, malam ini tak begitu indah. Meski bertemu Dandi adalah harapannya sejak tiga bulan yang lalu. Namun, ada sepi yang menyelam dalam di batinnya. Ada sesuatu yang membuatnya merasa tak lengkap.

“Risma, maafkan aku.. Dulu, aku telah salah menyia-nyiakan cinta tulus yang engkau beri untukku. Aku telah menyakitimu.” Sejenak diam, kafe lengang kembali, “Aku ingin kita kembali utuh seperti dulu lagi.”

Risma membenarkan posisinya duduk, beberapa detik kemudian, dia mulai membuka mulut, “Mungkin aku dulu begitu mencintaimu, Dandi. Sekarang, perasaan itu sudah terkikis. Sejak kamu memilih tega untuk memilih perempuan lain yang bukan, aku. Kamu, nggak akan pernah tahu betapa rapuhnya aku dulu. Berhari-hari aku menangis mengurung diri di kamar.. Makan pun tak enak. Hingga tubuhku kurus.” Matanya mulai terasa memanas, mulutnya tersekat, untuk beberapa saat, Risma mengambil napas. Mengatur perkataan apa yang pantas dikeluarkan, “Dan melupakanmu butuh tenaga, Dandi. Aku bersusah payah melupakanmu, menata kembali hati yang jatuh berkeping.”

Dandi berusaha menggenggam tangannya, namun ditepis dengan nada penolakan yang tegas.

“Maafkan aku, Risma. Aku mengaku salah telah menduakanmu. Saat itu, aku, benar-benar khilaf. Hatiku buta.”

“Apa? Katamu khilaf?”, bicaranya mulai meninggi, “Kamu terlalu menggampangkan sesuatu, Dandi. Termasuk perasaanku, kau gampangkan seenaknya. Kamu, bahkan tidak pernah mengerti itu.!”

“Aku benar-benar menyesal, Risma. Kumohon, maafkan aku.” Matanya masih menatap sendu, “aku akan berjanji, tidak akan mengulanginya lagi.” Lanjutnya sekali lagi.

“Kemana kau selama ini, Dandi? Kenapa baru sekarang kamu memintaku kembali. Kemana kamu dulu, hah? Kamu dulu kemana?” Suaranya semakin meninggi.

“Mungkin ini sepenuhnya kesalahanku, tidak bisakah kau memaafkan aku, Risma. Sungguh, aku masih mencintaimu. Aku ingin kita memulainya lagi, memperbaiki semuanya.”

“Maaf, aku nggak bisa.”

Risma, berlari meninggalkan kafe, punggungnya mulai hilang di balik pintu. Sedang, Dandi masih duduk memelas. Memukul-mukul kepalanya dengan kepalan tangan. “Aku bodoh. Sangat bodoh. Akhhh….!” Teriakannya terdengar memantul di sudut-sudut langit kafe. Tangannya memukul meja dengan kuat.

Risma terus berlari menyusuri jalan. Melepas hillnya yang mulai membuatnya pegal. Berjalan dengan kaki telanjang. Sesekali menyeka pipinya yang basah, “Semuanya sudah berakhir, Dandi. Sudah berakhir. Aku menyesal karena dulu pernah mencintaimu.”

Raka masih duduk mematung di atap kamar kost-nya. Menatap lampu yang temaram, menikmati bintang yang yang memenuhi langit. Bulan sabit juga ikut berpartisipasi menghias langit malam ini. Hatinya mulai berhenti berharap. Sesekali menyeka pelipisnya yang penuh dengan peluh kegetiran.

Menerima kekalahan hatinya, perempuan yang sangat diinginkan memilih kembali dengan kekasihnya. Hatinya terasa terluka. Napasnya mulai terasa berat.

“Dasar, bodoh!. Kenapa kamu masih duduk bengong di sini, hah?”

“Bukannya, kamu lagi dinner sama, Dandi?” Tangannya menggaruk kepala yang sebetulnya tidak gatal.

Risma, lantas duduk selonjor di sampingnya, “Aku terlalu sayang kamu, Raka. Tolong, tahan aku agar tetap di sini bersamamu. Aku mencintai kamu, bodoh.”

Raka diam tertegun, lantas memeluk tubuh perempuan di sampingnya. Pelukannya semakin erat, dada yang semula terasa sesak, kini berubah menjadi letupan-letupan bahagia.

“Aku juga mencintai kamu, bodoh.” Bisiknya dengan sangat lembut.

Raka, denganmu aku mengerti menjaga itu bagaimana. Aku kira, aku telah kehilangan segenap hatiku. Hadirmu membuatku merasa lebih berarti dan merasa dihargai. Kamu, mengajariku banyak hal. Dan sekarang, aku ingin utuh bersamamu. Anugrah terindah yang aku miliki sekarang adalah, kamu.

(lismi)

Be Sociable, Share!